Namun untuk memenuhi syarat sebagai wartawan, Chairum diwajibkan belajar menulis 5W+1H.
Dia pun berguru ke sebuah lembaga pendidikan jurnalistik di kawasan Kota Matsum.
“Setelah mendapat sertifikat kelulusan dasar menulis, barulah saya melamar dan diterima di sebuah koran lokal,” kenangnya.
Namun, setelah diterima di salah satu media cetak lokal terbitan Medan, perjuangan ayah 4 anak ini pun mulai diterjang masalah yang lebih berat.
Sebab, kendati sudah berprofesi sebagai wartawan di sebuah koran lokal waktu itu, ia tak menerima honor alis tanpa gaji hampir 10 tahun lamanya.
“Dari mulai terima gaji hanya Rp. 75 ribu sampai akhirnya, beberapa tahun lalu menjadi Rp250 ribu,” kata Chairum dengan mata yang tampak berkaca-kaca.
Meski harus menjalani hidup tanpa gaji memadai, Chairum tetap tegar dan terus berusaha untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Di tengah keterbatasan itu, kali ini, ia memikirkan sebuah cara untuk mendapatkan uang dari mengelola keamanan dan kebersihan pasar Sukaramai.
Dari sinilah, Chairum akhirnya memutuskan untuk membidani sebuah bisnis perusahan pers bergengsi.
Pria yang lahir dan besar di kawasan Sukaramai, Kota Medan ini merasakan betul getirnya hidup wartawan yang bekerja tanpa mengenal waktu, namun hanya menerima gaji yang minim.
Bahkan terbilang tidak cukup apalagi untuk membiayai sekolah 4 orang anaknya.
Karena itu, ia berniat mengajak beberapa teman jurnalis dan diberi gaji atau honor yang memadai.












