Ragam Daerah & Inspirasi Lokal

Ratna Gajah Betina Rahmat Zoo & Park Mati, Diduga Alami Gagal Organ Akibat Penyakit Komplikasi

1
×

Ratna Gajah Betina Rahmat Zoo & Park Mati, Diduga Alami Gagal Organ Akibat Penyakit Komplikasi

Sebarkan artikel ini

Penanganan awal dilakukan pada 12 November 2025 dengan pemberian vitamin dan terapi suportif yang sempat menunjukkan perbaikan kondisi.

Seekor Gajah Sumatera yang merupakan salah satu koleksi Rahmat Zoo & Park Sergai, yang dinyatakan mati pada Sabtu (7/2/2026). Gajah bernama Ratna ini, mati diduga karena gagal organ setelah menjalani perawatan. (kedannews.co.id/istimewa)

Serdang Bedagai, kedannews.co.id – Kabar duka datang dari Rahmat Zoo & Park, Kabupaten Serdang Bedagai. Seekor Gajah Sumatra betina bernama Ratna dilaporkan mati pada Sabtu, 7 Februari 2026. Gajah tersebut diperkirakan berusia sekitar 50 tahun dan telah lama menjalani perawatan intensif akibat gangguan kesehatan.

Manajemen Rahmat Zoo & Park menyampaikan bahwa Ratna mengalami penyakit komplikasi yang menyerang sejumlah organ vital, termasuk ginjal dan hati, yang akhirnya menyebabkan kegagalan fungsi organ secara menyeluruh.

Perwakilan manajemen Rahmat Zoo & Park, Putra Ario, menjelaskan bahwa sebelum meninggal dunia, Ratna telah mendapatkan penanganan medis secara berkelanjutan oleh tim internal yang bekerja sama dengan dokter hewan serta instansi terkait.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis, uji laboratorium, hingga nekropsi, penyebab utama kematian Ratna adalah gangguan fungsi ginjal dan hati yang disertai kerusakan pada organ vital lainnya, seperti jantung dan saluran pencernaan,” ujar Putra dalam keterangan tertulis, Rabu (11/2/2026).

Selain gangguan organ, Ratna juga diketahui mengalami luka menahun berupa fistula pada telapak kaki depan kiri. Kondisi tersebut mengharuskan penanganan khusus karena tindakan medis harus dilakukan melalui proses pembiusan, mengingat Ratna tidak sepenuhnya dapat dikendalikan seperti gajah jinak lainnya.

Putra mengungkapkan, pada 30 Oktober 2025, tim medis mendeteksi adanya udema (pembengkakan) di bagian perut. Penanganan awal dilakukan pada 12 November 2025 dengan pemberian vitamin dan terapi suportif yang sempat menunjukkan perbaikan kondisi.

Namun, memasuki awal tahun 2026, kondisi Ratna kembali memburuk. Pada 1 Januari 2026, peradangan pada luka fistula muncul kembali, disusul pengelupasan kulit pada 11 Januari 2026. Tim medis kemudian merekomendasikan tindakan lanjutan dengan melibatkan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara serta dokter hewan eksternal.

Seiring memburuknya kondisi kesehatan, Ratna mengalami penurunan nafsu makan dan minum. Pemeriksaan darah lanjutan menunjukkan adanya gangguan fungsi hati yang berdampak signifikan terhadap kondisi fisiknya.

Putra menyebutkan bahwa gangguan ginjal yang dialami Ratna diduga dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain usia lanjut, kondisi fisik awal yang kurang optimal, serta proses adaptasi terhadap lingkungan baru.

“Seluruh tahapan perawatan telah dilakukan sesuai prosedur medis dan prinsip kesejahteraan satwa, dengan pendampingan dokter hewan dan pengawasan dari otoritas konservasi,” tegasnya.

Sebagai informasi, Ratna tiba di Rahmat Zoo & Park pada 29 September 2025 bersama tiga gajah lainnya, yakni Poppy (sekitar 45 tahun), Uli (sekitar 6 tahun), dan Lia (sekitar 15 tahun). Saat kedatangan, beberapa gajah dilaporkan dalam kondisi kesehatan yang belum ideal dan membutuhkan perawatan lanjutan.