Jakarta, kedannews.co.id – Pemerintah Tiongkok mengambil berbagai langkah kreatif untuk meningkatkan angka pernikahan di tengah krisis demografi yang dihadapi negara tersebut. Langkah ini termasuk memberikan kemudahan bagi pasangan untuk menikah di mana saja, menyederhanakan proses pencatatan pernikahan, dan menjadikan acara pernikahan lebih berkesan dan istimewa.
Menurut laporan yang diterima pada Sabtu, 9 November 2025, pemerintah daerah di sejumlah wilayah di Tiongkok kini gencar melayani tren baru yang disebut “turis pernikahan”. Fenomena ini mengacu pada pasangan yang ingin menikah di tempat-tempat unik dan berkesan. Untuk itu, pemerintah setempat membuka kantor pendaftaran pernikahan di berbagai lokasi populer, mulai dari destinasi wisata hingga stasiun kereta bawah tanah.
Di kota Nanjing, kawasan timur Tiongkok, misalnya, pasangan kini dapat menikah di Kuil Konfusius, yang dikenal sebagai tempat bersejarah dan sakral. Bahkan, di lokasi tersebut, mereka bisa menggelar upacara dengan tema Dinasti Ming, menambah suasana klasik dan megah pada momen pernikahan mereka.
Sementara itu, di Chengdu, wilayah barat daya Tiongkok, pemerintah setempat mendirikan kantor pendaftaran di Gunung Salju Xiling yang terletak di ketinggian lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut. Pemandangan alam yang menakjubkan menjadi daya tarik tersendiri bagi pasangan yang ingin merayakan hari bahagianya dengan cara yang berbeda.
Tidak hanya itu, di Shanghai, pasangan dapat memilih untuk mendapatkan akta nikah di klub malam setelah melakukan proses administrasi di kantor catatan sipil. Bahkan di ibu kota Beijing, beberapa pasangan tercatat telah mendaftarkan pernikahan mereka di Kuil Huguo Guanyin, sebuah tempat spiritual yang populer di kalangan warga lokal.
Kebijakan inovatif ini tampaknya mulai menunjukkan hasil positif. Data resmi mencatat, jumlah pernikahan di Tiongkok meningkat 18 persen dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai 1,73 juta pasangan pada kuartal kedua tahun 2025. Angka tersebut menandakan perubahan tren yang menggembirakan setelah lebih dari satu dekade Tiongkok mengalami penurunan tingkat pernikahan secara konsisten.
Langkah-langkah kreatif ini dinilai sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk menstabilkan struktur demografi dan mengatasi kekhawatiran terhadap penurunan populasi yang berpotensi berdampak pada perekonomian di masa depan, Hal tersebut sebagaimana diberitakan CNBC Indonesia.












