Selain itu, sosial, sambung dia, kita ini masyarakat yang gemar saling tolong menolong, dari masing-masing suku kita punya kearifan lokalnya yang biasa disebut gotong royong, masyarakat mudah sekali melakukan sosial, berbudaya terbuka, silahkan darimana pun masuk, kita trust, literasi, asimilasi, tidak sekedar adopsi, pikiran kita menjadi terbuka.
“Pertahanan dan keamanan kita juga sangat bagus, banyak negara lain yang takut dengan Indonesia bukan karena esensial posnya, tapi karena kekuatan rakyat. Kita tidak mengenal ‘Tentara Bayaran’, kita mengenal Prajurit Berjuang, Berjuang Prajurit dan Tentara bersama rakyat, itu berbeda dengan yang lain,” kata Bang Zul yang merupakan Calon Presidium MN KAHMI.
Namun demikian, setelah Kemerdekaan RI ke 78 tahun, ungkap dia, kita terkesan, ‘jalan di tempat, dan tidak melangkah lebih cepat, melampaui potensi yang dimiliki, kita kalah dengan negara tetangga kita.
“Kita selalu kembali kepada masalah yang sama, setiap orde atau rezim kita ingin keluar dari masalah yang dihadapi. Tapi ketika berjalan kembali ke masalah yang sama. Kita hampir tidak ada yang tidak punya masalah,” kata aktivis berdarah Batak dan Sunda, namun lahir di Jawa itu.
Penulis: Leriadi
Editor: Cut Riri












