Scroll untuk baca artikel
MEMPROSES ADSENSE...

Dukung Kedan News

Dukung Kedan News

Klik gambar untuk mengetahui cara mendukung Kedan News.

Sosial

Takdir, Ikhtiar, dan Amanah Manusia: Jalan Tengah dalam Pandangan Al-Qur’an

×

Takdir, Ikhtiar, dan Amanah Manusia: Jalan Tengah dalam Pandangan Al-Qur’an

Sebarkan artikel ini

Al-Qur’an Menegaskan Jalan Tengah antara Kepasrahan, Usaha, dan Tanggung Jawab Manusia

Takdir, Ikhtiar, dan Amanah Manusia: Jalan Tengah dalam Pandangan Al-Qur’an.

Dukung Kedan News

Dukung Kedan News

Klik gambar untuk mengetahui cara mendukung Kedan News.

Oleh: Aris HST Sinurat, S.E., M.M

Dalam kehidupan beragama, takdir sering kali dipahami secara ekstrem. Di satu sisi, ada yang memaknainya sebagai ketentuan mutlak yang meniadakan peran manusia. Di sisi lain, ada pula yang menempatkan usaha manusia seolah-olah berdiri bebas tanpa campur tangan Tuhan. Padahal, Al-Qur’an menghadirkan pandangan yang utuh dan seimbang: segala sesuatu memang berada dalam ketetapan Allah, namun manusia tetap memikul amanah, diberi ikhtiar, dan dimintai pertanggungjawaban.

Dalam perspektif tasawuf, manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang faqir dan dhaif. Tidak memiliki daya dan kekuatan apa pun kecuali atas kehendak Allah. Al-Qur’an menegaskan posisi ontologis manusia tersebut sebagaimana firman Allah, “Wahai manusia, kamulah yang fakir kepada Allah, dan Allah-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS. Fāṭir: 15). Ayat ini meneguhkan bahwa kepemilikan, kekuasaan, dan hasil akhir bukanlah milik manusia, melainkan sepenuhnya berada di tangan Allah.

MEMPROSES ADSENSE...

Namun, kefakiran manusia ini tidak serta-merta menghapus peran dan tanggung jawabnya. Justru sebaliknya, Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang menerima amanah. Dalam QS. Al-Ahzab ayat 72, Allah berfirman bahwa amanah pernah ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, namun semuanya enggan memikulnya. Manusialah yang menerima amanah tersebut, meskipun digambarkan sebagai makhluk yang zalim dan bodoh. Amanah inilah yang menjadi dasar moral mengapa manusia tidak bisa berlindung di balik dalih takdir untuk membenarkan kelalaian dan kezaliman.

Cek Kesehatan Gratis Pemko Medan