Berita Utama & HeadlineRagam Daerah & Inspirasi Lokal

Bupati Aceh Timur Copot Plt Kepala BPBD akibat Lambannya Pendataan Korban Banjir

8
×

Bupati Aceh Timur Copot Plt Kepala BPBD akibat Lambannya Pendataan Korban Banjir

Sebarkan artikel ini

Kondisi Darurat Menuntut Respons yang Cepat, Terukur, dan Berbasis Data Lapangan yang Valid

Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky. (kedannews.co.id/dok)

ACEH TIMUR, kedannews.co.idBupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky mencopot Afifullah dari jabatannya sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Timur. Keputusan tersebut diambil menyusul lambannya pendataan korban banjir yang berdampak pada keterlambatan penyaluran bantuan.

“Hari ini saya mencopot Plt Kepala BPBD karena kita membutuhkan langkah cepat dan data yang lengkap,” ujar Al-Farlaky, Sabtu (10/1/2026).

Menurut Bupati, keterlambatan dan ketidakakuratan data korban menghambat proses pengambilan kebijakan, penyaluran logistik, serta perencanaan pemulihan pascabencana. Kondisi darurat, kata dia, menuntut respons yang cepat, terukur, dan berbasis data lapangan yang valid.

Sebagai pengganti, Al-Farlaky menunjuk Syahrizal Fauzi yang sebelumnya menjabat Plt Inspektorat Aceh Timur untuk memimpin BPBD. Penunjukan tersebut diharapkan mampu mempercepat koordinasi, memperbaiki sistem pendataan, serta meningkatkan efektivitas penanganan bencana.

Bupati menegaskan bahwa penataan organisasi merupakan bagian dari strategi percepatan pemulihan daerah. Ia menekankan jabatan publik harus diisi oleh pejabat yang memiliki kompetensi, kesiapan kerja, dan kemampuan mengambil keputusan di bawah tekanan.

“Penempatan pejabat harus berdasarkan kapasitas dan kinerja, bukan faktor kedekatan atau latar belakang tertentu,” tegasnya.

Selain itu, Al-Farlaky menginstruksikan seluruh kepala perangkat daerah untuk menyesuaikan pola kerja dengan ritme cepat, khususnya dalam situasi darurat. Pemerintah Kabupaten Aceh Timur juga berencana menggelar program peningkatan kapasitas aparatur sipil negara pascabencana.

Program tersebut akan difokuskan pada penguatan kepemimpinan krisis, ketahanan mental, serta pembentukan budaya kerja yang responsif terhadap kondisi darurat.