Pagi itu, suasana apel di sebuah kantor pemerintahan berjalan seperti biasa. Barisan rapi, wajah serius, hingga seorang pegawai datang dengan seragam lengkapâkecuali satu hal kecil yang langsung mencuri perhatian: sandal jepit.
Beberapa rekan sempat menoleh dua kali, memastikan mata mereka tidak salah fokus. Di tengah sepatu pantofel hitam mengilap, sepasang sandal karet biru tampak berdiri dengan percaya diri.
Pegawai tersebut, sebut saja Andi, belakangan mengaku tidak menyadari kekeliruan itu. âSaya kira sudah pakai sepatu dari rumah. Rupanya yang dipakai sandal,â ujarnya sambil tersenyum, dikutip dari pengakuan lisan kepada rekan kerja.
Alih-alih panik, Andi memilih tetap mengikuti apel hingga selesai. Sikap tenang itu justru memicu tawa tertahan di barisan belakang, meski suasana tetap dijaga agar apel berjalan tertib.
Atasan yang menyadari kejadian itu tidak langsung menegur di tempat. Seusai apel, ia hanya berpesan singkat, âBesok dicek lagi sebelum berangkat,â kata Andi menirukan, sambil tertawa kecil.
Beberapa pegawai menilai kejadian itu sebagai pengingat sederhana di tengah rutinitas kerja.
âKadang kita terlalu terburu-buru, hal kecil bisa luput,â ujar seorang rekan Andi, tanpa menyebutkan nama.
Momen tersebut cepat menyebar dari mulut ke mulut, menjadi bahan obrolan ringan di sela jam kerja. Tidak ada sanksi, tidak pula drama, hanya cerita lucu yang menyegarkan suasana kantor.
Di balik sandal jepit itu, pagi yang biasanya kaku berubah lebih cair. Sebuah kejadian kecil, namun cukup untuk mengingatkan bahwa di balik seragam dan aturan, ada sisi manusiawi yang tetap perlu dirawatâdengan senyum dan sedikit tawa.












