Setiap sore, perempuan tua itu duduk di bangku kayu depan rumahnya yang rapuh, menatap jalan tanah yang basah oleh hujan dan kenangan. Matanya kosong, tetapi penuh harap, seolah yakin seseorang akan muncul dari ujung tikungan.
Namanya Ibu Marni. Sejak suaminya meninggal lima tahun lalu, hanya satu hal yang membuatnya bertahan: menunggu anak semata wayangnya pulang, anak yang pergi merantau dan tak pernah kembali.
βKatanya cuma sebentar, Bu. Kalau sudah dapat kerja, aku pulang,β ujar anak itu dulu, kalimat yang terus berputar di kepala Ibu Marni setiap hari. Ia mengulangnya seperti doa, berharap kata-kata itu tak pernah berdusta.
Hari berganti minggu, minggu menjadi tahun. Tetangga sudah berhenti bertanya, karena mereka tahu jawabannya selalu sama: Ibu Marni masih menunggu.
Kadang ia berbicara sendiri, seolah anaknya duduk di sampingnya. Ia bercerita tentang padi yang gagal panen, tentang atap rumah yang bocor, dan tentang betapa sepinya malam tanpa suara langkah kaki yang ia rindukan.
βKalau kau pulang nanti, Ibu masakkan sayur kesukaanmu,β katanya lirih suatu sore, sambil menatap panci kosong. Tak ada yang menjawab, selain angin yang membawa bau tanah basah.












