Scroll untuk baca artikel
MEMPROSES ADSENSE...

Dukung Kedan News

Dukung Kedan News

Klik gambar untuk mengetahui cara mendukung Kedan News.

Lifestyle

Ia Menunggu di Bangku Tua Itu, Hingga Hujan Menghapus Semua Harapannya

×

Ia Menunggu di Bangku Tua Itu, Hingga Hujan Menghapus Semua Harapannya

Sebarkan artikel ini

Cerita Sunyi Seorang Ibu yang Setia Menanti Anak Pulang, Meski Waktu Tak Lagi Berpihak

Ilustrasi. (ist)

Dukung Kedan News

Dukung Kedan News

Klik gambar untuk mengetahui cara mendukung Kedan News.

Setiap sore, perempuan tua itu duduk di bangku kayu depan rumahnya yang rapuh, menatap jalan tanah yang basah oleh hujan dan kenangan. Matanya kosong, tetapi penuh harap, seolah yakin seseorang akan muncul dari ujung tikungan.

Namanya Ibu Marni. Sejak suaminya meninggal lima tahun lalu, hanya satu hal yang membuatnya bertahan: menunggu anak semata wayangnya pulang, anak yang pergi merantau dan tak pernah kembali.

MEMPROSES ADSENSE...

β€œKatanya cuma sebentar, Bu. Kalau sudah dapat kerja, aku pulang,” ujar anak itu dulu, kalimat yang terus berputar di kepala Ibu Marni setiap hari. Ia mengulangnya seperti doa, berharap kata-kata itu tak pernah berdusta.

Hari berganti minggu, minggu menjadi tahun. Tetangga sudah berhenti bertanya, karena mereka tahu jawabannya selalu sama: Ibu Marni masih menunggu.

Kadang ia berbicara sendiri, seolah anaknya duduk di sampingnya. Ia bercerita tentang padi yang gagal panen, tentang atap rumah yang bocor, dan tentang betapa sepinya malam tanpa suara langkah kaki yang ia rindukan.

β€œKalau kau pulang nanti, Ibu masakkan sayur kesukaanmu,” katanya lirih suatu sore, sambil menatap panci kosong. Tak ada yang menjawab, selain angin yang membawa bau tanah basah.

Cek Kesehatan Gratis Pemko Medan
Cek Kesehatan Gratis Pemko Medan
Cek Kesehatan Gratis Pemko Medan