Suatu hari hujan turun lebih deras dari biasanya. Ibu Marni tetap duduk di bangku itu, tubuhnya basah, matanya menatap jalan yang sama. Ia percaya, hujan tak akan menghalangi anaknya pulang.
Malamnya, warga menemukan ia masih di sana, tubuhnya kaku, wajahnya tenang. Di genggaman tangannya, ada kain lusuhβbekal yang dulu ia siapkan untuk anaknya.
Bangku tua itu kini kosong. Namun setiap sore, orang-orang mengaku masih melihat sosok Ibu Marni dalam ingatan mereka, menunggu dengan cinta yang tak pernah sempat terbalas.












