Pagi itu berjalan normal di ruang redaksi Kedan News, sampai sebuah suara lirih terdengar dari layar monitor. “Bang, kopi ini pahit kali ya,” ucap seorang wartawan dengan nada serius, tanpa sadar mikrofon siaran langsung masih menyala.
Awalnya semua orang mengira itu bagian dari laporan lapangan. Produser bahkan sempat mengangguk pelan, sebelum suara lain menyusul, “Belum sarapan aku, pantas emosiku naik,” yang disampaikan penuh kejujuran dan tanpa sensor.
Seorang editor langsung berdiri panik sambil berbisik keras, “Mic-nya masih hidup!” Namun terlambat, karena pemirsa sudah lebih dulu tertawa dan mulai membanjiri kolom komentar dengan emotikon ngakak.
Di lokasi, sang wartawan masih fokus mengaduk kopi plastiknya. Ia bahkan sempat berkata santai, “Habis ini kita cari lontong ya,” yang langsung disambut tawa pecah di ruang redaksi.
Beberapa detik kemudian, barulah ia sadar ada yang janggal. “Eh… ini sudah live ya?” tanyanya polos, seolah berharap waktu bisa diputar ulang lima menit ke belakang.
Pemirsa justru merasa siaran itu “jujur dan manusiawi”. Salah satu komentar berbunyi, “Baru kali ini lihat wartawan ngomong apa adanya, perut lapar itu fakta.”












