Subuh itu, warga Kampung Kedan Jaya terbangun bukan karena azan, melainkan teriakan, “Maling! Maling ayam!” yang terdengar lebih kencang dari knalpot motor racing. Orang-orang keluar rumah sambil masih setengah sadar, ada yang pakai sarung terbalik, ada yang bawa sapu, dan ada yang lupa pakai sendal.
Pak Roni, sang pemilik ayam, berdiri paling depan dengan wajah tegang. Ia bersumpah melihat bayangan hitam loncat pagar sambil membawa “sesuatu yang bergerak.” “Saya lihat jelas, itu malingnya kecil tapi gesit,” katanya dengan nada penuh keyakinan.
Warga pun menyisir gang sempit dengan penuh semangat, seolah sedang syuting film laga kelas kampung. “Awas ke kanan! Jangan sampai lolos!” teriak Pak Udin, padahal ia sendiri salah belok masuk dapur tetangga.
Tak lama kemudian, seekor ayam jago muncul dari balik semak sambil berkokok lantang, seolah ingin klarifikasi. Ayam itu terlihat sehat, segar, dan yang paling penting—memakai gelang plastik kecil di kakinya.
Bu Siti langsung tertawa terbahak-bahak. “Lho Pak Roni, itu kan ayam Abang sendiri. Gelangnya masih utuh,” ujarnya sambil menepuk lutut. Warga yang tadinya siaga langsung berubah jadi penonton komedi dadakan.












