Pak Roni terdiam dua detik, lalu menggaruk kepala. Ia mengakui ayamnya memang sering kabur saat subuh. “Berarti bukan maling ya, tapi ayam saya yang piknik tanpa izin,” katanya, membuat tawa makin pecah.
Situasi yang semula panas berubah jadi pesta tawa kampung. Ada yang duduk di teras sambil menirukan gaya ayam loncat pagar, ada pula yang berkata, “Ini maling paling jujur se-Kedan Jaya.”
Sebagai penutup insiden, Pak Roni berjanji traktir nasi goreng pagi itu. “Anggap saja ayam saya bikin hiburan gratis,” ucapnya, disambut tepuk tangan dan canda warga.
Hari pun beranjak pagi dengan perut kenyang dan hati ringan. Kampung Kedan Jaya kembali tenang, dengan satu pelajaran penting: sebelum teriak maling, pastikan dulu ayamnya sudah benar-benar hilang—bukan sekadar lupa jalan pulang.












