Pimpinan redaksi hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum. “Ini contoh jurnalistik tanpa rekayasa, tapi lain kali cek mic dulu,” katanya sambil menepuk pundak si wartawan.
Sore harinya, potongan video itu viral di media sosial. Banyak yang menyebutnya sebagai siaran paling jujur minggu ini, bahkan ada yang meminta episode lanjutan bertajuk Behind The Mic.
Si wartawan akhirnya angkat bicara. “Saya malu, tapi ya sudahlah. Setidaknya bangsa ini tahu, wartawan juga manusia, bisa lapar dan sensitif karena kopi pahit,” ujarnya sambil tertawa.
Sejak hari itu, satu aturan baru ditempel besar-besar di ruang redaksi: “Sebelum curhat, pastikan mic mati.” Dan entah kenapa, suasana kerja jadi sedikit lebih ceria.












