MEDAN, kedannews.co.id – Polemik pemasangan gambar Tuan Guru Syaikh Ali Mas’ud Al Banjari Al Haj yang disandingkan dengan atribut organisasi Perkumpulan Persatuan Suku-Suku Islam (PEPSSI) terus menuai sorotan. Galih Pamungkas disebut-sebut terkesan mengabaikan instruksi pimpinan pusat PEPSSI yang sebelumnya meminta agar gambar tersebut segera diturunkan.
Berdasarkan pantauan wartawan pada Rabu (13/05/2026) sekitar pukul 12.00 WIB, gambar Tuan Guru masih tampak terpampang dalam spanduk organisasi yang terpasang di salah satu rumah di Jalan Deli Sejahtera Blok I Nomor 5, Komplek KPUM, Desa Mekar Sari, Kecamatan Deli Tua.
Selain itu, gambar serupa juga diduga masih terbentang di salah satu rumah di kawasan Jalan Nogio VII, Deli Tua Timur.
Keberadaan gambar tersebut memunculkan berbagai reaksi, terlebih setelah Ketua Umum PEPSSI, H. Syahril, sebelumnya menegaskan bahwa pihaknya telah memerintahkan agar gambar Tuan Guru tidak lagi disandingkan dengan organisasi tersebut.
“Kita sudah perintahkan. Itu juga sudah disampaikan Ketua Dewan Pembina PEPSSI, Abah Wage,” ujar H. Syahril saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon selular, Jumat (08/05/2026) sekitar pukul 15.00 WIB.
Dalam keterangannya, Syahril menegaskan bahwa tidak ada keterkaitan antara PEPSSI dengan Tuan Guru Syaikh Ali Mas’ud Al Banjari Al Haj.
“Yang mendirikan PEPSSI itu saya, tidak ada hubungan dengan Tuan Guru. Nggak ada itu. Nggak ada itu,” cetus Syahril berulang.
Pria yang akrab disapa Ustadz Turki itu menambahkan, sosok Tuan Guru seharusnya cukup dimuliakan di dalam hati dan tidak dibawa ke dalam atribut organisasi yang berpotensi memunculkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
“Jadi jangan dibawa-bawa Tuan Guru nanti jadi fitnah. Itu bukan perintah PEPSSI. Waallahi,” tandasnya.
Syahril juga meluruskan informasi terkait posisi Galih Pamungkas di dalam struktur organisasi PEPSSI. Ia membantah klaim yang menyebut Galih sebagai Ketua Dewan Dakwah PEPSSI.
“Itu salah dia (Galih). Dia bukan Ketua Dewan Dakwah, tapi dia sebagai anggota Dewan Syuro,” bebernya.
Secara terpisah, sejumlah jamaah MATFA mengaku heran dengan masih terpampangnya gambar Tuan Guru yang disandingkan dengan atribut organisasi PEPSSI. Mereka mempertanyakan maksud dan tujuan pemasangan gambar tersebut.
“Kami yakin dan percaya bahwa itu bukan perintah dari pimpinan pusat PEPSSI,” tegas Zulkifli, jamaah MATFA asal Pangkalan Brandan.
Zulkifli berharap gambar tersebut segera diturunkan agar tidak menimbulkan polemik berkepanjangan di tengah jamaah.
“Jika dibiarkan gambar Tuan Guru dipampangkan sama dengan menciderai hati seluruh jamaah MATFA,” jelasnya.
Hal senada juga disampaikan Sakimin, jamaah MATFA asal Namurambe. Ia mempertanyakan motif di balik pemasangan gambar tersebut.
“Ada apa? Apa ada sesuatu muatan dibalik itu?,” tanya Sakimin.
Menurutnya, tindakan oknum yang memasang gambar itu berpotensi memicu dampak negatif terhadap kedua belah pihak.
“PEPSSI bisa rusak, MATFA juga dapat rusak. Gara-gara ulah oknum itu,” sesalnya.
Sementara itu, Edi Sanjaya, jamaah MATFA asal Nias, juga menduga ada kepentingan tertentu di balik penyandingan gambar Tuan Guru dengan atribut organisasi PEPSSI.
“Untuk apa dipampangkan? Apa maksud dan tujuan oknum yang menyandingkan gambar Tuan Guru dengan PEPSSI?,” ucap Edi.
Ia pun menyesalkan tindakan tersebut karena dinilai dapat menimbulkan penafsiran berbeda di tengah masyarakat.
“Untuk apalah itu. Tuan Guru itu cukup kita simpan rapi dalam hati, bukan dipajang-pajangkan,” keluhnya.
Hingga berita ini diterbitkan, Galih Pamungkas yang berupaya dikonfirmasi wartawan secara berulang belum memberikan tanggapan. Nomor telepon selular yang bersangkutan dilaporkan dalam keadaan tidak aktif.












