Politik & Pemerintahan

Pupuk Subsidi Naik Petani di Tulungagung Resah, Harga Melebihi HET

7
×

Pupuk Subsidi Naik Petani di Tulungagung Resah, Harga Melebihi HET

Sebarkan artikel ini
Sawah milik Taslem di Desa Sanggrahan setiap pagi di jaga dari serangan burung, Rabu (5/1/2022). (kedannews.com/Gusty Indah).
Sawah milik Taslem di Desa Sanggrahan setiap pagi di jaga dari serangan burung, Rabu (5/1/2022). (kedannews.com/Gusty Indah).

Tulungagung, kedannews.com – Petani di Kabupaten Tulungagung sangat resah, pasalnya harga pupuk subsidi mengalami kenaikan melebihi Harga Eceran Tertinggi ( HET). Secara otomatis biaya produksi meningkat, apabila dimusim panen harga menurun, petani semakin menjerit. Rabu (5/2/2021).

Diketahui harga pupuk subsidi sesuai Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) nomor 49 tahun 2020, tentang Alokasi dan harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi sektor pertanian. Pupuk urea per kilogram seharga Rp.2.250, satu karung Rp.112.500.

Pupuk ZA satu kilogram Rp.1.700, satu karung Rp.85 ribu, pupuk SP36 satu kilogram Rp 2.400, satu karung Rp.120 ribu,

Pupuk Phoska satu kilogram Rp 2.300, satu karung Rp.115 ribu , pupuk Petroganik satu kilogram Rp.800, satu karung Rp.32 ribu.

Harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi sebagaimana dimaksud berlaku untuk pembelian oleh petani, pekebun, peternak, pembudidaya ikan secara tunai diambil sendiri dalam kemasan diantaranya Za 50 kilogram, SP36 50 kilogram, Phonska 50 kilogram dan Petrogenik 40 kilogram.

Salah seorang petani Desa Sanggrahan Kecamatan Boyolangu, Samelan, ia mengaku harga pupuk subsidi melambung namun terpaksa harus di beli.

“Terpaksa kita beli juga, karena sawah yang ditanami padi harus tetap subur. Padi yang di tanam membutuhkan pupuk urea, ZA dan Phonska dikatakan selisih harga banyak sedangkan hasil panen biasa biasa saja” sebut Samelan.

Untuk menggarap lahan seluas satu hektar, sambung Samelan membutuhkan 1 sak pupuk setiap bulannya,” beruntung musim hujan ini sawahnya tidak sampai terendam air karena ada aliran airnya, setiap pagi saya ke sawah untuk mengusir burung burung akan berhinggap ke tanaman padi, kalau tidak di jaga padi padi ini habis di makan, satu bulan lagi akan panen. Mudah mudahan hasil panennya baik”, harap Samelan.

Terpisah ketua gabungan Kelompok Tani ( Gapoktan) Desa Kasreman Kecamatan Pakel Taslem mengatakan, dirinya membeli pupuk di kios di wilayahnya mendapat jatah 4 ton di bagikan untuk dua kelompok tani yaitu Kelompok Tani Sumber Pangan dan kelompok tani Makmur,” jenisnya ponska sama urea. Satu sak urea yang saya beli harganya Rp 150 ribu, meski mahal dan tidak sesuai dengan hasil panen yang penting ada barangnya”,, pungkasnya.

Melihat kondisi petani seperti ini,”kami berharap kepada pemerintah daerah agar mengkaji ulang harga pupuk agar bisa memberikan keuntungan pada petani”, katanya.

Sementara melalui Bidang Sarana prasarana Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung Oki agusta menjelaskan,pupuk subsidi sudah sesuai dengan rencana definitif kebutuhan kelompok ( RDK) dan ada ketentuan harga eceran tertinggi di tingkat kios.

Jadi, “ketika petani membeli pupuk di kios dalam bentuk satu sak harganya ikut harga eceran tertinggi, kalaupun ada yang di luar itu tidak di perbolehkan. Harga eceran subsidi sudah ada aturan dari pemerintah”, tandasnya

Dinas pertanian sudah melakukan sosialisasi kepada para kelompok kelompok tani, dari mereka ada beberapa orang anggota tidak bisa hadir sehingga tidak mengerti. Jumlah dari RDKK( Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Tani ) maupun jumlah pupuk yang di minta petani dengan yang diberikan pemerintah itu tidak imbang ( jauh), kekuatan subsidi pemerintah prosentasi 50 persen dari keinginan petani.

“Karena kurang mereka berusaha mencari, terkadang mereka membeli lalu di jual lagi. Sehingga petani mengeluh karena mereka merasa pupuk yang diberikan pemerintah kurang, harusnya petani tidak berupaya untuk mencari pupuk subsidi diluar ketentuan ataupun diluar haknya. Pupuk Indonesia Holding Company juga sudah menyediakan pupuk pupuk non subsidi, tetapi harganya mahal ini jadi masalah, kekurangan para petani pun sudah kita sampaikan ke pusat”, tutup Oki Agusta.

Penulis : Gusty Indah
Editor : Sholeh Pelka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *