Selain itu, lanjut Erick, terkait disrupsi ekonomi untuk digitalisasi juga sesuatu yang tidak bisa dihindari, dan mau tidak mau Indonesia harus bersiap menghadapinya. Dicontohkannya, top 10 besar perusahaan di Amerika yang dulunya ritel base, tujuh di antaranya saat ini sudah teknologi base.
“Contohnya Tesla, mobil tapi teknologi base, artinya apa disrupsi ekonomi untuk digitalisasi bukan sesuatu lagi yang bisa kita hindarkan pertanyaannya kita siap enggak. Ketika demografi kita tak punya role map bagaimana pekerjaan yang hilang dan pekerjaan yang akan tumbuh. Saat Industri 4.0 ada, siapa yang bekerja. Start-up di Indonesia banyak orang teknologinya itu dari negara lain, kita butuh 17 juta lebih ahli teknologi kita tidak siap belum lagi kita bicara bisnisnya,” ujarnya.
Lanjut Erick , penjelasannya bukan untuk menakut-nakuti, namun hanya ingin menjabarkan situasi yang ada saat ini agar semua ikut terlibat dalam perbaikan ke depan. “Berita bagusnya, negara kita marketnya besar dan ekonomi kita nomor satu di Asia Tenggara dan kita harus sama-sama perbaiki ini semua,” ujarnya.
Erick mengakui bila BUMN adalah 1/3 kekuatan ekonomi Indonesia, untuk itu perlu terus didorong BUMN agar terus bertranformasi. “Saya mendorong lima transformasi di BUMN, pertama transformasi daripada digitalisasi. Kedua, transformasi energi terbarukan. Ketiga, transformasi di industri pertambangan yang ramah terhadap lingkungan hidup, keempat transformasi industri pariwisata dan kelima, transformasi di industri pangan,” katanya.












