Selain itu, festival tersebut juga memperlombakan kuliner khas Toba yakni Naniura. Juga telah digelar sebelumnya, lomba aksara Batak, lomba ketapel dan lainnya. Sehingga diharapkan banyaknya kegiatan yang melibatkan masyarakat, terutama generasi muda, dapat menularkan orang lain untuk mencintai Danau Toba dengan segala kekayaannya.
“Bagaimana kita bisa membuat orang OTG, bukan tertular virus, tetapi menjadi Orang Tertular Geopark. Karena darimanapun, Danau Toba itu cantik panoramanya, flora fauna, dan juga peninggalan sejarah serta kekayaan budayanya,” jelas Debbie sekaligus mewakili Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut Zumri Sulthony.
Perlombaan ini juga menjadi titik tolak agar berbagai acara bisa digelar di kawasa Geopark Kaldera Toba, khususnya mengajarkan anak-anak generasi muda untuk mencintai daerahnya. Karenanya, festival tersebut tidak menitikberatkan pada pemenang lomba, melainkan melestarikan kekayaan budaya di dalamnya.
Sementara Ketua Harian Badan Pengelola Toba Caldera UNESCO Global Geopark, Mangindar Simbolon sebelum membuka kegiatan festival tersebut, menyampaikan bahwa kekayaan alam di kawasan Danau Toba perlu dikelola dengan baik. Ada unsur konservasi agar terjaga nilai dasarnya. Kemudian pendidikan, dimana edukasi kepada generasi muda sangat perlu ditanamkan sejak dini.












