Karenanya cahaya itu menurutnya, menjadi keutamaan bagi seorang alim ulama. Dibandingkan dengan ahli ibadah, ibarat seperti bulan purnama dengan bintang-bintang. Itulah yang terpancar di bumi Nusantara, dan pertama sekali dari Barus, memancar ke seluruh Indonesia.
“Islam adalah nur, memberikan cahaya kepada kita semua, supaya kita tahu mana yang baik mana yang tidak, mana yang hak dan batil,” sebut KH Ma’ruf Amin.
Apa yang terkandung di dalam Islam lanjut Ma’ruf, di antaranya kemaslahatan, keadilan, rahmat, hikmat, kesantunan, persatuan, keilmuan dan syariat, yang muaranya ada pada wujud pengelolaan bumi oleh manusia sebagai khalifah atau pemimpin di atasnya.
Kata syariat berarti bermakna keadilan Allah di antara hamba-hamba-Nya. Serta Rahmat bagi seluruh makhluk di muka bumi, di bawah naungan Allah.
“Jika merusak, membunuh atau menghancurkan, itu bukan syariat, walaupun dilabeli atas nama Islam,” tegas Ma’ruf.
Karena itu pula katanya, nilai keislaman sebagai Agama yang Rahmatan Lil Alamin, tercermin dari sikap toleransi beragama yang ada di Sumatera Utara, khususnya di Barus sebagai pintu masuknya Islam ke Indonesia. Sehingga banyak pula orang-orang pintar bahkan ulama dari berbagai negara, datang ke Indonesia untuk belajar bagaimana bangsa ini menjaga kerukunan dan toleransi.












