“Ulos ini budaya yang harus dilestarikan oleh pemerintah. Ini budaya kita orang Sumatera Utara, khususnya masyarakat batak. Kalau bisa, semua orang batak dimanapun berada harus merayakan hari ulos ini, agar tidak hilang kebudayaan kita ini,” jelasnya.
“Kalian (panitia) sudah membantu pemerintah menjaga budaya, ini sebenarnya pekerjaan kami (pemerintah). Saya sangat mendukung tim panitia. Insha Allah, kalau tak ada halangan, saya datang di Parapat, mohon buat bagus acaranya. Saya akan melaporkan ini ke pak Pj Gubsu,” sambung Asren Nasution.
Kata Asren, Dinas Pendidikan akan berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Utara untuk mensosialisasikan Hari Ulos Nasional 17 Oktober, yang sudah ditetapkan pemerintah pusat.
“Saya akan minta sertifikat Hari Ulos itu ke Dinas Pariwisata, segera buat surat ke dinas dari Yayasan Pusuk Buhit untuk menjadi dasar kami mensosialisasikan ini ke seluruh jajaran dinas pemerintah se Sumut, khususnya dinas pendidikan, agar sampai gaung hari ulos ini ke pemerintah pusat,” kata Asren.
Kepada Asren Nasution, Ketua Yayasan Pusuk Buhit Efendy Naibaho menjelaskan, Hari Ulos Nasional yang dilaksanakan selama 4 hari dengan parade ulos 1.000 meter akan melintasi 8 kabupaten di Kawasan Danau Toba.












