“Waktu adalah modal kehidupan, nilainya lebih besar dari harta, semenitpun tak dapat ditangguhkan, sekalipun dibayar dengan dunia. Waktu adalah sangat signifikan, Allah bersumpah di dalam Al Quran, penggunaan waktu dijadikan ukuran, mendapatkan keuntungan ataupun kerugian.”, ujar Usman ketika membacakan cuplikan syairnya di Kantor DPW PKS Sumut, Medan, Minggu (21/11).
Sementara itu Prof.Dr.dr. Umar Zein mengulas tentang eksistensi Syair Melayu di Nusantara. Ia mengungkapkan bahwa syair merupakan puisi lama berbentuk ungkapan yang mengandung perintah, saran, ajakan, maupun larangan. Dan kesemua itu terdapat pada buku karya Usman Jakfar.
“Seberang tampak bunga melati, ada pula sepohon kentang. Sangat senang hati kami, karena PKS sudah mengundang”, kata Umar Zein mengawali paparannya.
Pembicara terakhir, M. Raudah Jambak, menambahkan penjelasan tentang bentuk syair ideal dan perkembangan syair. Syair yang semula hanya dituliskan, kemudian berkembang dengan turut dinyanyikan atau disenandungkan. Ia juga memberi apresiasi dan masukan positif terhadap buku 100 Syair Religius.

Moderator pada akhirnya menutup rangkaian acara dengan menyatakan bahwa akal budi masyarakat yang sedang tidak baik dapat dirawat dengan syair-syair inspiratif.






