Dedi memberikan contoh pada acara pelantikan di Kabupaten Dairi beberapa waktu lalu. Saat Al Washliyah mau pelantikan, di dalam benak bupati saat itu, Al Washliyah merupakan suatu organisasi yang radikal, garis keras.
Anggapan itu timbul karena bupati belum menerima secara utuh informasi soal Al Washliyah. Dedi merasa kesal dengan dirinya, karena masih ada proses transformasi informasi tentang Al Washliyah yang belum dipahami oleh tokoh-tokoh di Sumatera Utara.
“Berarti ada yang salah sama saya. Berarti saya sebagai pimpinan di Sumatera Utara ini, belum mampu memberikan akses informasi yang banyak kepada khalayak ramai,” ujarnya.
Sambil berkelakar, Dedi mengatakan, berarti besok kalau masih ada tokoh-tokoh yang masih sama pikirannya kalau Al Washliyah lembaga radikal, garis keras tidak bisa diajak bicara, sangat tertutup dan tidak bisa membuka ruang diskusi dan lain sebagainya bukan lagi kesalahannya.
“Saya bisa salahkan Susilo sebagai Ketua Lembaga Kominfo Sumut. Kenapa Kominfo gak bisa membuka ruang orang untuk mencari informasi sebanyak mungkin tentang Al Washliyah. Ini penting,” senyum Dedi.












