Dari sejarah yang diingat, Hasyim menambahkan, sesungguhnya kehadiran kita di sini sebenarnya adalah bentuk penghormatan kepada sang Guru Patimpus Sembiring Pelawi. Sebagaimana kita ketahui dari berbagai literasi lebih kurang lebih dari 435 tahun yang lalu atau tepatnya pada tahun 1590 silam. Saat itu, Guru Patimpus membelah hutan dan membuka perkampungan atau pemukiman yang dulunya disebut kuta Madan.
Namun, perkampungan ini terus mengalami perkembangan hingga akhirnya menjadi sebuah kota metropolis yang sekarang ini kita lihat sudah berkembang dan sangat terhormat.
“Mungkin saat itu Guru Patimpus tidak pernah membayangkan kota yang beliau buka dahulu, sekarang telah menjadi kota besar. Kita bisa membayangkan saat membangun kota Medan dulunya adalah sebuah hutan yang dibelah dan tidak tahu seperti apa sepinya, namun beliau tetap gigih membuat sebuah perkampungan. Jikalau beliau masih hidup hingga saat ini, menyaksikan kota yang dulu dibuatnya dan sekarang berkembang dan maju, tentu beliau akan sangat bangga. Saat ini kita dengan kesadaran tinggi memberikan penghormatan, tentu saja banyak cara memberikan penghormatan terhadap jasanya, seperti dengan cara melakukan pemugaran kembali makam geriten Guru Patimpus yang mungkin tidak terawat pada saat ini,” ungkapnya.












