Rina pun mengharapkan perguruan tinggi dapat terus meningkat kontribusinya dalam upaya menurunkan angka stunting dan juga berperan menjaga sustainabilitas program penurunan stunting.
“Perguruan tinggi sendiri terdiri dari banyak para intelektual dan pakar dari berbagai bidang ilmu yang diharapkan dapat berkontribusi dalam menurunkan angka stunting,” sebutnya.
Sebelumnya Dekan Fakultas Kedokteran UMSU, dr Siti Masliana Siregar STHT KL menyampaikan pendidikan tinggi memiliki peran memberikan rekomendasi dari hasil kajian atau penelitian dalam penanganan stunting.
“Tidak kalah penting, implementasi praktik penanganan percepatan penurunan stunting di tingkat wilayah dengan melakukan edukasi dan promosi kepada masyarakat melalui pendekatan keluarga oleh kerja sama perguruan tinggi dengan lembaga terkait merupakan kebijakan dari pendidikan tinggi,” jelasnya.
Penanganan kasus stunting atau gangguan pertumbuhan fisik dan otak pada anak karena kurangnya asupan gizi dalam waktu lama ini, digalakan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Dukungan tersebut terwujud dalam program Kampus Siaga dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang bekerja sama dengan Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) dan Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Bidang GIZI (AIPGI).












