Ia mengatakan, Kota Medan memiliki kekayaan suku, agama, dan budaya yang menjadi modal sosial pembangunan. Menurutnya, keberagaman harus dipandang sebagai kekuatan, bukan sumber perbedaan yang memecah belah.
βKota Medan kaya akan suku, agama, dan budaya. Dalam keberagaman itulah kita menemukan kekuatan. Jadikan perbedaan sebagai energi pembangunan, bukan sumber perpecahan,β tuturnya disambut tepuk tangan hadirin.
Wong juga mendorong Permabudhi Sumut agar terus merangkul seluruh majelis dan lembaga keagamaan Buddha tanpa membeda-bedakan aliran. Ia berharap organisasi tersebut dapat berperan aktif memberikan masukan strategis kepada Pemerintah Kota Medan maupun Pemerintah Provinsi Sumatera Utara demi kepentingan umat dan masyarakat luas.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa perayaan Cap Go Meh tahun ini bertepatan dengan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Ia berharap momentum tersebut semakin mempererat hubungan antarumat beragama di Kota Medan.
βSemoga tahun ini membawa keberkahan, kesehatan, kesuksesan, dan kedamaian bagi kita semua,β ucapnya.
Sementara itu, Pembimas Buddha Kantor Wilayah Kementerian Agama RI Provinsi Sumatera Utara, Sukasdi, SE, menyampaikan bahwa Cap Go Meh harus menjadi ruang untuk merayakan perbedaan sebagai kekuatan bangsa.












