“Setelah mendengar penjelasan mereka, saya jadi faham ternyata mereka ini para pahlawan ekonomi juga. Sebab mereka telah banyak mendidik generasi muda sehingga memiliki keahlian dan keterampilan. Banyak dari lulusannya kemudian mampu mandiri membuka usaha sektor ril seperti percetakan, ketikan komputer, salon kecantikan, rias pengantin, pembuat kue dan kuliner serta usaha jahitan dan bordir. Ini luar biasa. Saya mengapresiasi ini, seharus nya pemerintah juga mengapresiasi berupa dukungan program melalui APBD agar LPK ini lebih banyak berkiprah. Namun tadi saat saya kontak dengan Kadisnaker Sumut beliau mengatakan kendala anggaran sangat kecil untuk bisa mendukung LPK,”ungkapnya.
Untuk membekali generasi muda dengan kecakapan teknis dan keterampilan, menurutnya, kehadiran lembaga penyelenggara kursus keterampilan menjadi salah satu solusi. Mereka mendidik anak-anak muda usia 15 – 18 tahun melalui program pendidikan vokasi luar sekolah dalam bidang komputer, tata boga, tata busana, rias kecantikan dan lain-lain.
Sekretaris FPKS ini menyebutkan, Batubara melalui program pembekalan mentalitas, kempimpinan dan kewirausahaan bagi para pengelola LPK maupun bagi para peserta didiknya.Kebutuhan akan lapangan kerja bagi generasi muda saat ini sangat tinggi, ini salah satu nya ditandai dengan tinggi nya angka pengangguran di kalangan pemuda. “Jangan kan orang yang tak punya ijazah dan keahlian, yang memiliki nya pun saat ini tidak mudah untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Hal ini diperparah sikap mental generasi muda yang lemah dalam kemandirian dan kewirausahaan,” tegasnya.












