Semisal atas nama perbedaan setiap orang bisa melaksanakan apa yang menurutnya baik dan baginya ibadah. Kondisi ini menjadi jika yang bersangkutan hidup di lingkungan yang mayoritas berbeda dengannya. Semisal bermain musik dan berlantun/melantunkan seperti teriak secara keras di lingkungan tempat tinggal yang dihuni banyak orang, seperti kos, rumah susun, atau perkampungan.
Maka sikap menegur tentu tidak bisa disalahkan. Tidak hanya dalam pertimbangan kebenaran agama, alasan kondusif, rasa nyaman, dan tidak saling ganggu untuk kepentingan bersama. Di sini maksud penulis dengan sikap tegas. Tegas tidak harus keras. Artinya teguran tersebut dapat disampaikan dengan cara dan nada yang pelan.
Contoh lain dari urgensi sikap tegas disertai dan terhadap sikap toleran dalam konteks hubungan antar umat beragama adalah tatkala penyalahgunaan. Toleransi dengan disalah arti sebagaimana di atas kemudian disalahgunakan untuk kepentingan tertentu, semisal menonjolkan perbedaan identitas sekedar untuk eksistensi. Ini toleran tidak pada tempatnya, jika disalahgunakan dapat berakibat justru menimbulkan masalah seperti ketersinggungan, kecemburuan, atau ketidaknyamanan khususnya hubungan antar umat beragama.












