Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil (Penulis Lepas Yogyakarta)
TATKALA membincang hubungan antar umat beragama seringnya dituntut untuk bersikap toleran atau toleransi antar sesama penganut agama meski berbeda-beda. Saking toleran bahkan cenderung bersifat berlebihan maka terkadang disebut toleransi kebablasan.
Bentuk sikap antar umat beragama sejatinya tidak melulu berupa toleran, namun juga tegas. Tegas bukan berarti tidak toleran. Sikap tegas bahkan bersifat urgen dan sangat dibutuhkan terlebih tatkala sikap toleran tersebut disalahartikan, disalahgunakan, atau kebablasan.
Umumnya sikap dalam kehidupan berupa dua hal yang saling melengkapi dan seiring sejalan, seperti makan dan minum, kerja dan istirahat, tegas dan toleran adalah dua hal yang sama-sama dibutuhkan. Tidak akan lengkap toleran tanpa ketegasan, sekali salah satu sikap beragama tersebut hilang dari seseorang maka akan jomplang.
Dikatakan bahwa sikap toleran terkadang disalah artikan adalah bahwa seorang toleran sudah pasti dalam kondisi sama dengan orang lain yang disikapi toleran (objek). Sehingga kondisi seseorang harus menerima apa dan bagaimana perbuatan atau kelakuan seseorang. Tidak jarang justru sikap ini justru mengikat dan mewajibkan setiap orang untuk menghargai dan bersikap menerima berbagai bentuk perbedaan.












