Penelitian oleh Malik, Schulze, dan Hu (2006) menghasilkan temuan bahwa minuman berpemanis berhubungan signifikan terhadap kenaikan berat badan dan risiko obesitas yang lebih besar baik pada anak-anak maupun dewasa (Rosyada). tren konsumsi minuman berpemanis dan bersoda membuat perilaku konsumsi makanan sehat menjadi berkurang. Konsumsi kalori akan bertambah yang menjadi penyebab tingginya tingkat obesitas di Indonesia. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukan bahwa di Indonesia 1 dari 3 orang dewasa mengalami obesitas dan 1 dari 5 anak usia 5-12 tahun mengalami obesitas (Zhafira). Data Riset Kesehatan Dasar (2018) juga menunjukan bahwa tren masalah berat badan pada Indonesia mengalami peningkatan dua kali lipat (Zhafira).
Selain menimbulkan obesitas, minuman berpemanis apabila dikonsumsi berlebihan juga akan menimbulkan penyakit diabetes. Sebuah studi mengatakan bahwa minuman manis 1 sampai 2 gelas per hari secara regular dapat meningkatkan risiko diabetes melitus tipe dua hingga 26 persen lebih besar (Adhi). Kondisi diabetes di Indonesia juga sangat memprihatinkan. Data dari International Diabetes Federation (IDF) menunjukan bahwa Indonesia berstatus waspada diabetes karena menempati urutan ke-7 dari 10 negara dengan jumlah pasien diabetes tertinggi. Prevalensi pasien pengidap diabetes di Indonesia mencapai 6,2 persen (Pranita). Hal ini menunjukan bahwa pada tahun 2020, lebih dari 10,8 juta orang menderita diabetes. Apabila pemerintah tidak memberikan tanggapan secara serius terkait masalah obesitas dan diabetes, maka dapat timbul biaya kesehatan yang harus ditanggung oleh pemerintah dikemudian hari. Hal ini didukung dengan data yang menunjukan bahwa sepanjang tahun 2017-2019 biaya pengobatan diabetes oleh BPJS mencapai Rp2 triliun tiap tahunnya (Harsono).












