Kritik Pedas ke DPR dan Presiden
Lebih lanjut, Linton menilai DPR sering kali membuat undang-undang berdasarkan kepentingan tertentu tanpa kajian mendalam. Ia meminta DPRD Sumut untuk berani membuka ruang diskusi bersama mahasiswa dan akademisi Unimed.
“Reformasi DPR itu penting. DPR sekarang bicara pun sering tidak terjaga, padahal ucapan bisa melukai masyarakat. Kami ingin DPR mengajak Universitas Negeri Medan berdiskusi karena banyak intelektual di kampus ini yang bisa memberi solusi nyata,” tegasnya.
Dalam wawancaranya, Linton juga menyinggung Presiden Prabowo Subianto agar menjaga tutur kata. “Mohon maaf Pak Prabowo, saya bukan menggurui, tapi minta tolong lisan dijaga. Ucapan tidak pantas tidak layak keluar dari seorang presiden,” katanya.
Janji 2×24 Jam
Menurut Linton, hasil pertemuan dengan pimpinan DPRD Sumut menyepakati waktu dua kali 24 jam untuk menindaklanjuti tuntutan mahasiswa. Informasi tersebut akan dikomunikasikan kepada dirinya sebagai pimpinan aksi atau kepada Senat Mahasiswa Unimed.
“Kalau sampai tanggal 5 September tidak ada kejelasan, maka kami akan kembali dengan aksi jilid II,” tandasnya.
Ia juga menolak tudingan bahwa aksi mahasiswa belakangan ini ditunggangi pihak tertentu. “Kami tersinggung kalau dibilang dibayar. Kami justru melawan korupsi. Kami meminta aset koruptor dirampas, bukan malah dilindungi,” pungkasnya.












