“Karena biaya pengolahan limbah, khususnya B3 dari Rumah Sakit, harus dikirim ke Jawa Barat. Bisa dibayangkan berapa anggaran yang harus dikeluarkan untuk itu. Bahkan ada yang mencoba mengolah sendiri limbahnya, dengan cara yang tidak benar,” jelas Gubernur.
Untuk itu, Gubernur bersyukur bahwa proyek yang telah dilakukan peletakan batu pertama tahun lalu, kini dalam progres yang baik. Sebab pada dasarnya, ide dan permohonan pembangunan instalasi pengolahan limbah terpadu ini sudah ia sampaikan pada 2018 silam.
“Ini akan mempermudah penghapusan limbah, mengurangi biaya dan pastinya menampung banyak tenaga kerja,” pungkasnya.
Sementara Direktur Utama (Dirut) PT KIM Ngurah Wirawan mengapresiasi kehadiran Gubernur Edy Rahmayadi yang meninjau lokasi pembangunan FPLT tersebut. Dengan sarana ini, kawasan perindustrian ini akan memiliki pengolahan limbah yang berkapasitas cukup besar. Karenanya mereka meminta agar seluruh progres yang sudah berjalan, diyakinkan dapat mencapai target sebagaimana arahan Gubernur.
Senada dengan itu, Direktur Operasi I PT Adhi Karya Suko Widigdo menjelaskan bahwa di dalam FPLT ada beberapa proses. Pada tahap I, katanya, ada laboratorium B3, sarana pelatihan SDM untuk keperluan pengolahan limbah B3, IPAL dengan kapasitas COD (Chemical Oxygen Demand) tinggi bagi limbah berat.












