Sedangkan seks bebeas bukan hal yang tiba-tiba dilakukan remaja ataupun orang dewasa, namun ini pun bisa terpola pada impulsivitas ( bertindak tanpa berpikir panjang), bahkan orang yang ‘hypersex’ sangat dimungkinkan mengalami depresi.
Secara psikologis, katanya, kenapa remaja bisa free sex, akibat kerapuhan psikologis berdampak ektrem dari keluarga yang tidak memberikan kehangatan emosional, tidak memberikan kasih sayang, tidak memberikan perhatian yang cukup, bahkan sering menolak kehadiran anak.
Terkait hal itu, Ifada mengingatkan para orang tua memahami bahwa penguatan psikologis penting, karea ledakan psikologis beragam ketika anak perempuan dan laki laki mencari kehangatan emosional di luar rumah, melalui perilaku seksual eksesif dan bersifat avanturir ( relasi dangkal, hanya sepintas), baik dengan rekan sebaya maupun pasangan dewasa.
Penulis : Gusty Indah
Editor : Mery Ismail S.sos












