“Dari Tanjung Selamat, belanja sembako, jalan kita ini pak sempit, mohon dilebarkan jembatan ini, ekonomi pun bisa meningkat,” kata Supriadi di lokasi.
Sutrisno, warga lain, juga menyampaikan keprihatinannya karena anak-anak sekolah harus mengantre panjang setiap pagi untuk bisa melintas menuju sekolah di Padang Tualang.
“Mau ke Alur Gadung, minta dilebari, dipermanen, karena anak-anak pun susah, selisihan, susahlah pak,” ungkapnya.
Tokoh masyarakat Sawit Seberang, Bukhori, menambahkan bahwa jembatan itu dibangun sejak tahun 2006 dan telah banyak memakan korban akibat kondisinya yang tidak layak.
“Sekitar tahun 2012, pemuda bernama Zulkarnain meninggal karena kehabisan infus saat menuju rumah sakit, gara-gara terhambat, jembatan tidak bisa dilalui roda empat,” ujar Bukhori.
Pada tahun 2014, seorang ibu bernama Bu Wati juga meninggal saat hendak melahirkan karena keterlambatan akibat jalur yang sama.
“Pada 2024, anak sekolah kecelakaan di jembatan, kepalanya terbentur, mata keluar, dan cacat seumur hidup,” jelas Bukhori.
Bukhori memohon kepada Gubsu agar jembatan dibangun permanen dan dapat dilalui kendaraan roda empat atau lebih, demi kelancaran pengangkutan hasil bumi dan pendidikan anak-anak. Menurutnya, pabrik kelapa sawit di Alur Gadung terpaksa memutar sejauh 13–14 km karena truk tidak bisa melintas, yang menyebabkan biaya logistik meningkat.












