Acara dimulai dengan nyiramkeun Barang pusaka dengan memandikan arca yang dilanjutkan dengan goong renteng dan pusaka lainnya seperti pusaka keris, cetbang, baju jirah, dan pusaka lainnya.
Masih ungkap Teten acara ini diselenggarakan bertepatan di tanggal belasan pada bulan safar dan selalu hari Senin.
Ada penjelasan menarik dari salah seorang pranata budaya talaga manggung, Asep Asdha, dengan diadakannya acara nyiramkeun ini selain mencuci pusaka ada hal menarik yaitu adanya lumbung ketahanan pangan yang berjalan sejak tahun 1671 dibuktikan dengan adanya Leuit Kamandeti.

“Hal ini membuktikan bahwa sistem pertanian di masa kerajaan talaga manggung sudah bisa mengatur pangan melalui swasembada pangan,” ucap Asep. (Eric)






