Ia berpesan kepada peserta webinar, “kaum muda tidak boleh malu berbuat untuk memajukan daerahnya”
“Harus bangga. Tidak boleh hanya bangga menjadi pekerja diperusahaan orang lain, tetapi tetap saja menjadi babu. Maka harus bangga menjadi anak muda yang fokus memperbaiki daerahnya sendiri. Poin ketiga, jika berfikir untuk menjadi pemimpin daerah, maka harus bisa menjaga kepercayaan masyarakat. Jangan mengkhianati hati rakyat, berbuat yang terbaik,” pesannya.
Sementara itu, Muhammad Husen ebagai inisiator sekaligus yang menjadi Keynote Speech menjelaskan betapa pentingnya diskusi periodik seperti ini.
“Pertemuan ini sebagai sebuah solusi dalam mengurai persoalan yang dihadapi Kabupaten Flores Timur. Kabupaten yang tingkat kesejahteraannya masih rendah, provinsi paling tertinggal ke tiga se-Indonesia setelah Papua dan Papua Barat,” pungkas Debe.
Menurut Debe, Jika kabupaten lain di Indonesia hanya bergerak satu langkah, maka Flores Timur harus bergerak sepuluh langkah.
“Flotim harus maju sepuluh langkah dan untuk mengejar ketertinggalan harus kerja ekstra. Menggeserkan kebiasaan prilaku konsumtif menuju praktik produktif. Kekayaan kebudayaan harus dikonversi sebagai income produktif dan berdaya saing,” imbuh Debe. (Arh)












