“Alhamdulilah produk kami manjadi nominasi di Green Product Award 2021 di Oktober kemarin. Produk yang kami gunakan adalah bahan-bahan alam yang limbah dan bahan ini yang paling diminati di pasar ekspor. Kami ekspor selama ini hanya produk tanpa pakai brand, Perancis ada 12 konsumen dan di Spanyol ada 8 konsumen yang punya brand sendiri. Jadi sampai sana, brandnya masing-masing dari konsumen tapi secara tidak langsung brand kami juga mulai terukur dikenal,” ujarnya sembari mengatakan sejak 2008, Palem Craft menjadi peserta pameran handicraft terbesar, di Jerman.
Lanjut Deddy, bahan baku untuk kerajinan di Palem Craft diambil dari Aceh hingga Papua. “Kebutuhan bahan baku kami seperti serat batang pisang kami ambil dari Palembang, ada juga dari Sulawesi. Harganya sekilo Rp60ribu dan biasanya kami beli sampai 1 ton. Visi kami bagaimana mengembangkan potensi alam yang ada di Indonensia,” ujarnya.
Palem Craft yang hadir sejak 2003 ini juga tidak lupa mengembangkan potensi yang ada di lingkungan sekitarnya. Selain 41 karyawan tetap, ibu-ibu di lingkungan tempat produksinyajuga diajak bekerjasama untuk membuat kerajinan di rumah masing-masing. “Pasar lokal kami memang kurang, tapi pasar ekspor cukup besar. Saat ini permintaan juga datang dari Korea Selatan, Chili, Filipina, Israel dan saat ini kami tengah mempersiapkannya untuk ekspor ke Polandia,” ujarnya.












