Aksi tersebut ditutup dengan dialog antara perwakilan relawan dan penyidik Direktorat Siber Polda Sumut. Pihak kepolisian menyebutkan laporan masih dalam proses. Namun, relawan mengancam akan kembali dengan massa yang lebih besar jika tidak ada perkembangan signifikan.
Ketua Umum BBN Indonesia, Ricky Rangkuti menambahkan bahwa masalah ini bukan semata soal pribadi, tapi menyangkut harga diri seorang ibu dan simbol pemimpin daerah.
“Istri gubernur bukan hanya ibu rumah tangga biasa. Ia simbol kehormatan. Penghinaan ini harus dihentikan. Ini bukan kritik, ini ujaran kebencian,” kata Ricky.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga ruang digital dari ujaran kebencian.
“Kalau dibiarkan, penghinaan pada pejabat publik dan keluarganya akan dianggap biasa. Kami tidak ingin ruang digital jadi tempat menyebar kebencian. Kritik boleh, tapi jangan menghina,” pungkas Ricky.












