Dalam sambutannya, Gus Ali Sodik menegaskan pentingnya memahami sejarah sebagai pijakan identitas dan pembangunan karakter bangsa.
“Trah Pangeran Notokusumo memainkan peran penting dalam dinamika politik Jawa sejak Geger Pecinan hingga era Kesultanan Yogyakarta. Jabatan Bupati di Ngrowo memperlihatkan kesinambungan genealogis yang kuat antara elite Mataram dan struktur pemerintahan lokal,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa peristiwa Geger Pecinan menjadi salah satu titik balik konstelasi politik di Jawa yang turut memengaruhi pembentukan elite birokrasi di Ngrowo.
Menurutnya, keberadaan R.M.T. Pringgokusumo dalam mata rantai sejarah Ngrowo menunjukkan adanya kesinambungan genealogis dari era Majapahit, Mataram, hingga elite birokrasi lokal. Selain itu, terjadi integrasi politik dan religius melalui hubungan perkawinan dengan keluarga ulama, yang memperkuat legitimasi sosial dan spiritual kepemimpinan kala itu.
“Keberlanjutan kekuasaan lokal yang diteruskan keturunannya hingga awal abad ke-20 menjadi bagian penting yang perlu dipahami generasi sekarang,” kata Gus Ali.
Peluncuran buku Yasin & Tahlil Naluri juga disebut sebagai bentuk pelestarian tradisi keagamaan khas Kasepuhan Perdikan Majan, yang selama ini hidup dalam praktik sosial masyarakat setempat.












