βIni (festival) pertama kali kita gelar sejak Danau Toba ditetapkan menjadi anggota UNESCO Global Geopark (UGG). Merupakan hal yang luar biasa, karena minat masyarakat begitu tinggi,β kata Debbie di lokasi acara, Sabtu (20/11) malam.
Menurutnya ini momentum yang harus dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah kabupaten termasuk pelaku seni budaya. Sehingga jika bisa dilaksanakan setiap pekan atau setiap bulan, akan bisa mendatangkan kembali para wisatawan, setidaknya domestik, mengingat masa pandemi Covid-19 masih membatasi perjalan antar negara, sehingga untuk wisatawan mancanegara (wisman) sulit diharapkan.
βKonsep pengelolaan Geopark itu adalah konservasi, edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Jadi ketiga hal itu ada pada event ini. Pertama kita tapilkan seni budaya tradisional, melibatkan yang anak-anak generasi muda juga, sebagai upaya mendidik mereka, dan juga membuat para pedagang mendapatkan manfaat ekonomi di dalamnya,β tambah Debbie.
Debbie juga berhararp, event dengan konsep dimaksud bisa dilakukan di seluruh kabupaten se kawasan Danau Toba. Karena modal awal untuk mengundang orang datang ke danau supervolcano ini sudah ada, yakni pemandangan indah dari berbagai sudut. Sehingga dibutuhkan pengelolaan dari segi pelayanan, hingga produk kebudayaan yang akan membuat wisatawan merasa terhibur dan nyaman berkunjung lebih lama.












