Dan terkuaknya ia berada di kota suci Makkah saat itu, terlihat dari kotor dan terbakarnya sedikit baju yang dikenakan oleh Syekh Abdul Malik.
Sedangkan wali Allah yang bernama Malim Kayu merupakan pendatang dari daratan Tiongkok. Kehadiran Syekh Malim Kayu ini di tanah Sumatera ketika itu, diperkirakan datang bersama rombongan kolonel Chengho yang merupakan uturan dari salah satu kerajaan terbesar Tiongkok saat itu.
“Diceritakan disaat rambut dipangkat, ternyata secara goib ia berada di Makkah untuk membantu memadamkan api ditempat beribadah umat Islam. Ketahuannya saat dilihat baju yang dipakai sedikit terbakar dan tubuhnya bau dengan asap. Ini sangat luar biasa,” kata TGD yang juga pemimpin MIFA ini serius.
Untuk itulah TGD kembali mengatakan, sudah seharusnya menghidupkan wisata reliji lewat penataan yang rapi, sehingga para wisatawan rejelius baik lokal dan manca negara dapat berziarah guna memanjatkan doa atau menghadiahkan Alfatiha diareal pemakaman itu dengan mudah.
“Saya sudah ke Pulau Jawa dan beberapa tempat di Indonesia. Tempat-tempat makam para wali Allah dikelola dengan rapi dan dijaga. Sehingga memudahkan para pengunjung,” pungkas TGD Prabu Kresno RD.






