Ia juga berharap agar daun kelor selain dimanfaatkan untuk kesehatan, juga bisa menambah pemasukan. “Selain itu, harapan kita petani atau masyarakat kita bisa menanam daun kelor di samping untuk asupan sendiri, tanaman kelor ini juga bisa menjadi tanaman yang menghasilkan atau jadi mata pencarian,” ujarnya.
Sementara itu, Devi menjelaskan, Sumut telah menjadi satu dari enam daerah di Indonesia yang menjadi pusat daun kelor. Kelor dikenal di seluruh dunia sebagai tanaman bergizi dan WHO telah memperkenalkan kelor sebagai salah satu pangan alternatif untuk mengatasi masalah gizi.
“Jadi di luar negeri itu, di Afrika tepatnya daun kelor sudah menjadi suplemen untuk ibu menyusui dan untuk anak bayi untuk membantu tumbuh kembangnya,” jelas Devi.
Devi mengaku dirinya memiliki lahan sendiri untuk menanam daun kelor. Menurut pengalamannya, daun kelor sangat mudah tumbuh di wilayah Sumut. Penanaman perdana bisa dipanen di usia 4 bulan.
“Jadi dia model panennya dipangkas, setelah panen perdana bisa dipanen lagi setelah 30-40 hari dan jumlahnya akan lebih banyak dibanding panen perdana karena setelah dipangkas dia bercabang. Panen ganda dan gak perlu peremajaan,” ujarnya sembari mengatakan proses pengeringan yang Ia lakukan adalah metode kering dingin, tanpa sinar matahari.












