Ia menambahkan bahwa acara ini juga merupakan bentuk syukur atas berkat yang telah diterima oleh seluruh keturunan Sihotang. Di samping ibadah dan doa, acara dikemas dalam nuansa adat, melibatkan hula-hula (marga Tamba dan Simbolon) sebagai tulang dari marga Sihotang, guna memberikan restu dan doa untuk masa depan yang lebih cerah.
“Kita juga mengemasnya dengan adat. Kita memanggil hula-hula kita, marga Tamba dan Simbolon, agar mendoakan kita supaya pomparan raja ini bisa lebih maju ke depan,” tuturnya lagi.
Diperkirakan lebih dari 4.000 orang menghadiri pesta budaya pagi ini, menjadikannya salah satu pertemuan adat terbesar dalam sejarah Punguan Raja Sigodangulu Sihotang. Kegiatan berlanjut hingga sore dan malam hari dengan sambutan dari panitia, tokoh adat, dan Gubernur maupun perwakilan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
Acara ini juga diharapkan menjadi inspirasi pelestarian budaya dan penguatan identitas sosial dalam kerangka kekeluargaan dan keberagaman Indonesia.












