“Pencegahan Omicron sebenarnya sama seperti kasus infeksi virus Corona sebelumnya yaitu dengan menjalankan prokes, seperti menjaga jarak, memakai masker dengan tingkat filtrasi tinggi, mencuci tangan menggunakan sabun/ hand sanitizer, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas. Selain itu pemberian vaksin meskipun tidak dapat mencegah infeksi Omicron 100%, tetapi dapat mengurangi keparahan penyakit,” kata Humairah.
Lebih lanjut Humairah menjelaskan, pencegahan penyebaran Omicron harusnya dilakukan dengan cara edukasi yang intens kepada masyarakat luas bagaimana melakukan prokes yang benar. Diungkapkan Humairah, pelaksanaan prokes saat terlihat sudah semakin longgar dan banyak warga yang sudah tidak mematuhi prokes.
Disamping itu, papar Humairah, langkah menyediakan isoter terutama terhadap kasus-kasus suspek atau terkonfirmasi varian Omicron, baik tanpa gejala atau dengan gejala, termasuk bagi warga yang baru bepergian keluar kota atau luar negeri yang bertujuan untuk mengurangi risiko penularan. Meski demikian, tegasnya, pencegahan secara personal harus lebih ditingkatkan.
“Penguatan tracing sangat tepat sekali dilakukan, terutama kepada orang kontak erat dengan kasus probable atau dengan kasus terkonfirmasi Omicron. Sebaiknya pada kasus konfirmasi Omicron, wawancara dilakukan sesegera mungkin dalam waktu 24 jam oleh tenaga contact tracer terhitung sejak hasil pemeriksaan laboratorium keluar (terkonfirmasi). Hal ini dilakukan untuk diidentifikasi kontak eratnya yang bertujuan untuk menurunkan angka kematian dan mengatasi penularan,” jelasnya.






