Menurutnya, makna perisai dalam konteks puasa mencakup perlindungan dari hawa nafsu dan dorongan negatif yang dapat merusak kualitas keimanan seseorang.
“Perisai dari hawa nafsu, puasa melatih seseorang untuk menahan diri dari hal-hal yang dilarang, termasuk mengendalikan amarah, menjaga lisan, dan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat. Sehingga terbentuk karakter muslim yang kuat dan berdaya tahan dalam menghadapi berbagai ujian hidup. Puasa juga menjadi benteng yang melindungi seorang muslim dari siksa neraka,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa puasa dapat menjadi perisai dari pola konsumsi yang berlebihan serta mendorong tumbuhnya empati sosial.
“Puasa juga bisa jadi perisai dari konsumsi yang berlebihan. Diharapkan muncul empati dan kepedulian terhadap sesama, serta mengokohkan nilai-nilai keislaman dalam peradaban,” pungkasnya.
Dalam kesempatan tersebut disampaikan pula bahwa ketika ibadah puasa Ramadhan dijalankan dengan sungguh-sungguh, nilai-nilai Islam diyakini akan semakin kokoh dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, budaya, maupun ekonomi. Hal itu diharapkan mampu membentuk peradaban yang bermartabat dan berkeadilan.












