Selain itu, Hasyim juga mengajak seluruh pihak untuk mewaspadai ancaman perubahan iklim yang berpotensi mengganggu ketahanan pangan.
“Ini adalah langkah yang bijaksana, mengingat dunia saat ini terus menghadapi tantangan global yang dapat berdampak langsung terhadap stabilitas dan pembangunan di tingkat daerah,” pungkasnya.
Sekilas untuk diketahui, dalam pidatonya, Presiden Jokowi mengemukakan beberapa topik, salah satunya terkait foto dirinya yang dipasangkan dengan bakal calon presiden (Capres) di baliho.
Jokowi juga sempat menyinggung dirinya yang acap kali diejek sebagai seorang yang bodoh.
“Saya tahu ada yang mengatakan saya ini bodoh, plonga-plongo, tidak tahu apa-apa, Firaun, tolol, ya ndak apa-apa. Sebagai pribadi, saya menerima saja,” katanya.
Jokowi kemudian menegaskan bahwa dia adalah seorang presiden, bukan ‘Pak Lurah’ sebagaimana sindiran yang mengarah ke dirinya.
“Belakangan saya tahu yang dimaksud Pak Lurah ternyata saya. Iya, saya jawab saja, saya bukan lurah, saya adalah presiden Republik Indonesia,” kata Jokowi.
Ia juga menambahkan, posisi presiden itu tidak senyaman yang dipersepsikan. “Ada tanggung jawab besar yang harus diemban, banyak permasalahan rakyat yang harus diselesaikan,” tutupnya.












