“Sama-sama untuk menjaga serta melestarikan lokasi wisata yang ada di Bukit Lawang. Langkat ini termasuk yang berkontribusi untuk oksigen di dunia terkadang kita lupa mensyukuri itu,” jelasnya.
Ia pun mengaku mengerti terkadang satu dua orang ada yang datang untuk merusak alam Bukit Lawang. Perbuatannya itu secara otomatis merusak ekosistem yang ada.
“Ini tanggungjawab bersama. Saya mempunyai tanggung jawab besar juga untuk itu. Bukan hanya bicara tentang bagaimana agar berjalannya kehidupan masyarakat di sini, tetapi juga untuk menjadikan ini (Bukit Lawang) suatu kebanggaan Langkat, agar dapat dipromosikan kepada dunia secara baik,” katanya.
Seperti bagaimana ikon Orang Utan ini untuk dikenalkan baik secara langsung maupun secara online ke publik. Juga semua kegiatan disini turut diviralkan.
“Hutan Bukit Lawang kita menjaga lalu kita promosikan di media sosial (online) dan dari mulut ke mulut (offline) agar semakin dikenal publik dan maju. Dipromosi ini, Dinas Pariwisata harus sangat berperan,” tandasnya.
Sembari menceritakan dahulu banyak kesan dialami dirinya di Bukit Lawang. Pada tahun 1982 dan 1983 dirinya melakukan camping, terlihat banyak turis mancanegara datang hanya untuk mencari yang alami ke Bukit Lawang. Padahal di daerah/negerinya juga ada hutan.












