Ia menggambarkan bagaimana Rasulullah menggunakan tutur kata yang lembut ketika menawarkan bantuan.
βWahai saudaraku, kalau dia berbicara kepadaku, dia akan berkata, βAnas, mana pekerjaanmu yang bisa aku tolong? Anas, mana pekerjaanmu yang bisa aku bantu?ββ tutur Ustadz Amir.
Menurutnya, kisah tersebut menggambarkan pentingnya menjaga perasaan orang lain ketika berkomunikasi.
Ia juga mengisahkan peristiwa seorang sahabat yang mengalami batal wudu setelah mengeluarkan angin di tengah majelis. Dalam kisah yang disampaikan, Rasulullah SAW tidak menunjuk ataupun mempermalukan orang tersebut.
Rasulullah SAW justru mengajak seluruh sahabat memperbarui wudu sebelum salat Isya.
βDi sinilah kesantunan dan kelembutan Nabi. Kalau Nabi lakukan itu, sahabat yang buang angin pasti malu dan rendah diri. Tetapi Nabi tidak melakukan itu,β jelasnya.
Jemaah Diingatkan Tidak Sembarangan Menggunakan Lisan
Ustadz Amir selanjutnya mengingatkan jemaah mengenai pentingnya menjaga lisan. Ia mengutip Surah Al-Balad ayat 8-10 tentang pemberian mata, lidah, dua bibir, serta petunjuk mengenai dua jalan.
Menurutnya, lisan dapat menjadi sarana menyampaikan kebaikan, tetapi juga dapat menimbulkan keburukan apabila tidak dijaga.












