“Dari lisan ini bisa lahir dua jalan. Bisa dari lisan lahir kebaikan, bisa lahir keburukan. Hanya tinggal kita memakainya, mau ke mana diarahkan,” katanya.
Ia menekankan bahwa menjaga lisan bukan hanya dilakukan dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga dalam keluarga, lingkungan masyarakat dan ketika berinteraksi dengan orang lain.
Jemaah diingatkan agar tidak mudah memberikan komentar mengenai fisik, keadaan maupun kekurangan orang lain. Bahkan candaan sekalipun, menurutnya, perlu dipertimbangkan agar tidak membuat orang lain merasa malu atau tersinggung.
“Salamatul insan bihifzil lisan. Selamat manusia kalau dia menjaga lisannya,” ujarnya.
Akal Diingatkan Mendahului Ucapan
Menutup tausyiahnya, Ustadz Amir mengutip nasihat Ali bin Abi Thalib mengenai hubungan antara akal dan lisan.
Ia menjelaskan bahwa seseorang perlu memikirkan terlebih dahulu perkataan yang akan disampaikan serta dampaknya sebelum berbicara.
“Orang cerdas dia letakkan akalnya di depan, lisannya di belakang. Sebelum dia ngomong dan bicara, dia sudah pikirkan dengan matang dan baik apa kata-kata yang dia lontarkan,” jelasnya.












