“Masalah gizi lain terkait dengan stunting yang masih menjadi problem kesehatan masyarakat adalah anemia pada ibu hamil yang ada di angka 48,9%. Kemudian berat bayi lahir rendah atau BBLR (6,2%), balita kurus atau wasting (10,2%), dan anemia pada balita. Penurunan stunting memerlukan intervensi yang terpadu, mencakup intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif. Sejalan dengan inisiatif percepatan penurunan stunting, pemerintah kemudian meluncurkan gerakan nasional percepatan perbaikan gizi (Gernas PPG) yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden No. 42 tahun 2013 tentang Gernas PPG dalam kerangka 1.000 hari pertama kehidupan (HPK),” jabar Sekdakab panjang lebar.
Dikatakan oleh Faisal, untuk Kabupaten Sergai dari sasaran balita tahun 2022 sebesar 47.373 jiwa, baru 31.338 (82,4%) balita yang diukur. Dari hasil pengukuran dan pengentrian terakhir dari aplikasi EPPGBM ini didapati bahwa balita stunting di Sergai sebanyak 884 balita (2,8%), underweight sebanyak 408 balita (1.3 %), dan wasting 359 balita (1,1%).
“Pemerintah telah menetapkan penurunan stunting sebagai prioritas nasional yang dilaksanakan secara lintas sektor di berbagai tingkatan sampai dengan tingkat desa. Salah satu upaya kita dalam penanggulangan stunting di Sergai adalah dengan melibatkan seluruh OPD, lintas sektor, lintas profesi, swasta serta pemberdayaan masyarakat dan desa dalam konvergensi percepatan penurunan stunting,” jelasnya.












