Melalui analogi tersebut, ia mengajak masyarakat untuk memperhatikan apa yang dibangun dalam diri masing-masing, termasuk kebiasaan berpikir dan bertindak, agar keinginan melakukan kebaikan tidak berhenti pada perkataan.
Kebaikan Bisa Dimulai dalam Kondisi Apa Pun
Sebagai penutup, Rizqie menegaskan bahwa seseorang tidak perlu terus-menerus merayu Tuhan dengan janji akan melakukan kebaikan apabila keinginannya terpenuhi. Ia mengajak masyarakat menggunakan akal untuk mencari cara agar kehidupan dapat memberikan manfaat bagi orang lain.
“Jadi apa kesimpulannya? Kesimpulannya adalah jangan merayu Tuhan. Kerjakan dan lakukan saja kebaikan itu tanpa perlu banyak merayu. Kan kita diberi akal nih. Gunakan akal kita ini untuk berfikir. Bagaimana caranya supaya hidup kita ini bisa menjadi manfaat? Bagaimana caranya supaya hidup kita ini bisa mengalirkan kebaikan-kebaikan? Dengan kondisi apapun,” kata Rizqie Dyah.
Pesan tersebut menempatkan tindakan nyata sebagai bagian penting dari niat berbuat baik. Dalam kondisi ekonomi yang belum ideal sekalipun, seseorang tetap dapat berupaya memberikan manfaat sesuai kemampuan yang dimiliki, tanpa harus menunggu datangnya kekayaan.












