Hasil kajian mengungkapkan bahwa kelima wilayah tersebut berada pada kategori Bahaya untuk indikator penyalahgunaan narkoba, kesehatan sosial, dan kemiskinan, sedangkan aspek kriminalitas berada pada kategori Waspada. Dari seluruh wilayah yang diteliti, Kecamatan Medan Johor memiliki tingkat kerentanan paling tinggi dengan 57,5 persen responden masuk dalam kelompok berisiko tinggi.
Penelitian juga mencatat sabu-sabu menjadi jenis narkoba yang paling banyak dikenal masyarakat sebagai narkotika yang sering disalahgunakan. Sementara itu, pengaruh teman sebaya menjadi faktor dominan yang mendorong seseorang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba.
Temuan lainnya menunjukkan bahwa penyalahgunaan narkoba tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap tingkat kriminalitas. Sebaliknya, kemiskinan menjadi satu-satunya faktor yang terbukti berpengaruh secara langsung terhadap munculnya tindak kriminal. Penelitian tersebut juga menemukan adanya hubungan yang kuat antara rendahnya kesehatan sosial dengan kondisi kemiskinan masyarakat.
Berdasarkan hasil kajian tersebut, tim peneliti merekomendasikan agar penanganan persoalan sosial dilakukan secara terpadu melalui penguatan program pencegahan narkoba, peningkatan ekonomi masyarakat, pembangunan ketahanan komunitas, serta kolaborasi lintas sektor. Seminar turut menghadirkan Dr. Zulkarnain Nasution, M.A., ICAO I., sebagai narasumber, dipandu moderator Ira Riska Aisyah Lubis, S.Sos., M.Si., dan dihadiri Kepala BRIDA Kota Medan Benny Iskandar, perwakilan BNN Sumatera Utara, serta sejumlah organisasi perangkat daerah Pemko Medan.












